Tadi pagi, ketika melintas keluar komplek perumahan tempat saya tinggal, saya berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang jaan-jalan pagi. Saya yakini saja mereka pasangan suami istri karena mereka tampak mesra sekali.
Pasangan ini terlihat ngobrol asyik sekali, sambil sesekali salah satunya tertawa terkekeh-kekeh. Sang istri duduk di kursi roda yang didorong suaminya. Usia mereka berdua sekitar 70an tahun. Dan sang suami kakinya sudah gemetar setiap kali melangkah.
Saya terpana.
Mereka sudah berjalan sepanjang itu. Lebih dari separuh hidup dijalani berdua, dan mereka masih bisa ngobrol, jalan pagi dan tertawa bersama. Mereka berdua masih saling dukung walau tubuh sudah tak lagi seberapa kuat.
Apa sih arti kuat?
Sang suami yang sudah kakek-kakek itu menikmati langkahnya yang gemetar, untuk mendorong kursi roda istrinya dengan rasa bahagia. Wajah mereka cerah sekali.
Ah, berapa lama ya usia pernikahan mereka? Dua puluh? Tiga puluh? Atau lebih? Seberapa banyak pertengkaran yang sudah mereka lewati? Seberapa perih proses kompromi yang mereka tekuni? Selama itu? Sepanjang itu? Lebih dari separuh umur mereka.
Ditengah jalannya yang tertatih, dia rela hati menemani pasangannya mandi matahari pagi. Saat itu saya jadi berpikir, akankah saya mau mengecup pelipis pasangan dan berkata, “kamu capek, ya” ketika tubuh saya begitu lelah sepulang kerja. Akankah saya mau terjaga ditengah kantuk nan luar biasa ketika pasangan butuh teman cerita pada dini hari buta. Akankah saya mau sekedar membuatkan kopi ketika melihatnya tengah berat didera masalah.
Sekarang rasanya saya mau. Sampai usia habis nanti.
Minggu, 12 Juni 2011
Minggu, 27 Maret 2011
Aku Tak Kekurangan Cinta

Udah lama ga ngeblog sejak gw sibuk "nge-Twitter" tp peristiwa pagi ini bener2 menginspirasiku utk nge-blogs lagi.
Pagi ini aku sengaja bangun siang, pengen males2an aja padahal suamiku dah sibuk sama usahanya, biasanya aku bantuin, tp pagi ini judulnya: lg pengen males.
ternyata tidur mulu biki bete juga, akirnya aku bangun n pengen bantuin suamiku, tp terkejut aku teriak kesakitan krn sepertinya aku nginjek paku payung, kecil sih, tp sakitnya lumayan juga.. begitu denger jeritanu, suami langsung lari ninggalin kerjaanya, dia langsung pegang kakiku, antara ga tega n harus tega dia berusaha mencabut pakunya, tiap kali ku teriak sakit dia malah yg sedih n kawatir, akirnya mau ga mau emang paku harus di cabut, maka tercabutlah paku itu.. yg bikin aku surprize, suamiku langsung menghisap lukaku sblm keluar darah dgn mulutnya, katanya biar ga tetanus.. ah suamiku, kau polos sekali..
dan.. seharian itu aku hanya boleh duduk n ga boleh bantuin pdhal jujur aku tu ga sakit, betapa sayangnya dia padaku sampe dalam kesibukannya masih sempet ngurusin aku n nyempetin ke toko sebelah beli jajan buatku.. berkali2 dia bilang sayang banget padaku n rasanya seneng kalo beiin apa apa buatku aku mau memakannya or memakainya.. hmmm i love u so much my hubby.. nobody loves me like u do..
Minggu, 03 Oktober 2010
Ngeri Miskin

Banyak orang ngeri mendengar kata miskin. Membayangkan saja pun tidak ingin. Dan setiap kali kata itu terucap, kesan umum yang terbayang adalah kesengsaraan, papa, compang-camping dan kesempitan hidup. Sebaliknya kata kaya membuat orang sumringah dan bergairah.Terlintas di dalam benak berbagai kesenangan hidup dan kemewahan. Hidup serba cukup dengan berbagai fasilitas dan kemudahan akses. Pendek kata, hidup benar-benar hidup.
Dua keadaan di atas adalah lumrah dan manusiawi. Pada dasarnya manusia memiliki hasrat untuk hidup berkecukupan dan amat takut akan kekurangan apalagi kemiskinan. Tetapi, miskin sama sekali berbeda dengan merasa miskin. Sama halnya berbeda antara kaya dengan merasa kaya.

Ada orang berpenampilan sangat sederhana. Hidup serba bersahaja. Rumahnya benar-benar hanya sebatas fungsi primer; sebagai penghalang terik matahari, dari derasnya hujan dan dari derunya terpaan angin. Tetapi ia nyenyak tidurnya walau di atas kasur yang sudah menipis, lapuk dan dingin. Dan pagi-pagi buta sebelum ayam berkokok, ia sudah beraktivitas dengan kecipak air wudunya lalu berdiri mengucap syukur.
Pakaiannya sederhana, sebatas fungsi primernya saja; bersih, menutup aurat dan agar terlindung dari kemungkinan mudharat karena telanjang.
Makanannya juga bersahaja; hanya sebatas fungsi primernya dari mengganja lrasa lapar dan sekedar membuat tulang punggungnya tegak. Namun di balik itu, kekayaan batinnya tak terkira. Investasi ruhaninya tak pernah merugi. Tabungan kebajikannya selalu berbunga dan saham akhiratnya tak pernah anjlok. Ia berkawan baik dengan syukur dan qona'aah. Juga tak pernah ketinggalan dengan infaq dan sedekah.
Ada orang bernampilan perlente, necis dan glamour. Hidup seperti mesin waktu penghasil uang. Pergi gelap pulangnya juga gelap.

Rumahnya adalah prestise dan harga diri. Rancang bangun, arsitektur, interior dan perabot adalah ukuran kelasnya. Pagar halamannya, cukuplah untuk membeli lima rumah sederhana orang biasa. Begitu indah rumahnya, begitu empuk dipan dan hangat selimutnya, tetapi matanya sukar dipenjamkan wala sekejap. Terpaksalah ia menenggak pil tidur dan penenang hanya untuk kenikmatan pulas. Betapa mahal harga tidurnya setiap malam. Sampai tak menghiraukan lagi panggilan Shubuh dan mengucek mata di kala matahari telah tinggi.
Belum lagi baju dengan harga yang tidak rasional menurut ukuran orang kere. Tapi banyak pula dari baju-baju yang mahal itu, tidak sesuai fungsinya. Banyak bagian dari bajunya terbelah. Paha dan dadanya terbelah. Pusar dan punggungnya terbelah. Hingga sukarlah dibedakan antara baju dan bahan baju yang belum selesai ditautkan dengan jahitan.
Menunya asing di telinga dan sukar menyebutnya. Disajikan bak taman pengantin. Dihias rupa-rupa. Kadang dimakan tak habis. Hanya sekedar dicicip lalu berganti menu baru yang sama-sama asing dan sukar dilafalkan. Lapar bukanlah dorongan utama untuk makan. Tetapi sebagai bagian dari protokoler highclass; beginilah sesungguhnya makan dengan harga diri yang amat tinggi.
Semboyannya adalah Time is money. No money no honor.
Tetapi apa lacur, kekayaan materi itu tidak sanggup mengatasi kekosongan ruhaninya. Ruhaninya miskin di tengah tumpukkan kekayaan harta bendanya. Begitu miskinnya ia, sampai-sampai tidak mengerti apa itu sedekah, apa itu zakat dan bagaiamana harta itu harus dibelanjakan di jalan Tuhan.

Begitu banyak orang miskin tapi merasa begitu kaya batinnya. Mereka orang-orang bersahaja yang tidak pernah merasa sukar untuk memberi. Seolah mereka memiliki rizki yang tak terbatas dan tak pernah habis dibagikan. Seperti riwayat Abu Ya'la yang sampai kepada kita :
Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknyaharta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la).
Ada begitu banyak yang kaya dengan kasat mata, tetapi sebenarnya miskin dan selalu kekurangan. Karena kekurangannya ia enggan memberi. Tangannya tertutup rapat dari sedekah. Hatinya selalu menimbang rugi jika berderma. Seolah belum tiba saat baginya untuk berbagi. Ya, belum saatnya untuk orang lain. Masih untuk diri sendiri. Padahal malaikat selalu bersahut-sahutan di atas langit berdo'a. Katanya :
Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yangsatu berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan." Malaikat yang satu lagi berdoa: "Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya)." (Mutafaq'alaih).
Jangan pernah merasa miskin. Sebab merasa miskin adalah jalan yang mengantarkan seseorang kepada kemiskinan yang ditakuti banyak orang.
Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang). (HR. Muslim)
Menjadilah kaya sekaya Abdurraham bin 'Auf. Lalu ingat-ingat soal kekayaan seperti pesan nabi kepada 'Amru :
Wahai 'Amru, alangkah baiknya harta yang sholeh di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)
Jumat, 20 Agustus 2010
Meluruskan Salah Kaprah Kata ''Ramadhan'' dan ''Ramadan''
Oleh: Akhmad Sekhu
Bulan suci Ramadhan disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam. Berbagai kesibukan untuk menyiapkan hidangan makanan sahur dan berbuka puasa turut serta mewarnainya. Tak ketinggalan mereka saling mengirimkan ucapan untuk menyambut Ramadhan, baik dengan hp lewat sms, maupun dengan memanfaatkan berbagai jejaring sosial, seperti facebook, twitter, plurk, dll.
Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata “Ramadhan,” yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi “Ramadan” karena dengan begitu pengertiannya akan berubah total.

“Ramadhan” berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Di Jazirah Arab memang menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus) dan bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Hal itu terjadi berhari-hari, sehingga setelah beberapa pekan bisa terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.
Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan (qomariyah), yang rata-rata sebelas hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadhan secara metafora (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Dari akar kata tersebut kata “Ramadhan” digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata “Ramadhan” digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah.
…Kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab berarti orang yang sakit mata mau buta, sehingga tak dapat disamakan dengan “Ramadhan”…
Namun kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab artinya orang yang sakit mata mau buta, sehingga tidak dapat disamakan artinya dengan “Ramadhan.”
Kecerobohan Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sangat disayangkan penulisan ejaan “Ramadhan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan kata “Ramadan”. Entah mengapa para ahli bahasa yang menyusun KBBI sangat ceroboh menuliskannya begitu. Apakah mereka tidak sengaja atau apa? KBBI tentu menjadi rujukan masyarakat Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik (bukan baik dulu, baru kemudian benar). Jadi para ahli bahasa yang menyusun KBBI harus hati-hati dalam menyusun kata-kata dalam kamus pedoman itu. Apalagi kata “Ramadhan” adalah salah satu kata yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Terlebih lagi, penduduk Indonesia paling besar adalah memang beragam Islam.
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya mengakomodasi kata-kata dari banyak bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Latin, Prancis, Sanskerta, Spanyol, Tionghoa, Yunani dan lain-lain. Dalam bidang agama, ratusan kata berasal dari Bahasa Arab, termasuk salah satunya kata “Ramadhan” yang sedang kita bicarakan. Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang ada hubungannya dengan bahasa negara lain, sangat dimungkinkan muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya negara itu. Tapi karena kata “Ramadhan” memang sangat berbeda artinya dengan kata “Ramadan” tentu harus tetap digunakan kata “Ramadhan”.
…Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Ramadhan” dengan “Ramadan,” karena melahirkan salah kaprah…
Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Ramadhan” dengan “Ramadan”. Karena kita tahu sendiri dalam menggunakan bahasa di tengah masyarakat kita sering terjadi salah kaprah, artinya menggunakan bahasa pada awalnya salah dan karena yang salah dibiarkan tetap salah maka masyarakat kemudian menganggapnya itu sebagai bahasa yang umum digunakan sehingga masyarakat akhirnya tidak merasa salah kalau menggunakannya. Padahal penggunaan bahasa itu keliru. Oleh karena itu juga yang salah akan tetap salah dan janganlah dilakukan yang nantinya akan berakibat menjadi lebih fatal lagi sehingga akhirnya kekeliruan itu walaupun salah sekalipun tapi karena umum dilakukan sehingga akan menjadi kebiasaan.
*) Penulis adalah pengamat bahasa alumnus Universitas Widya Mataram Yogyakarta, kini tinggal di Jakarta dan Tegal.
Bulan suci Ramadhan disambut dengan penuh suka cita oleh umat Islam. Berbagai kesibukan untuk menyiapkan hidangan makanan sahur dan berbuka puasa turut serta mewarnainya. Tak ketinggalan mereka saling mengirimkan ucapan untuk menyambut Ramadhan, baik dengan hp lewat sms, maupun dengan memanfaatkan berbagai jejaring sosial, seperti facebook, twitter, plurk, dll.
Ada yang perlu diwaspadai dalam penulisan kata “Ramadhan,” yaitu jangan sampai kita menghilangkan huruf “h” sehingga kemudian menjadi “Ramadan” karena dengan begitu pengertiannya akan berubah total.
“Ramadhan” berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Di Jazirah Arab memang menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus) dan bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Hal itu terjadi berhari-hari, sehingga setelah beberapa pekan bisa terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.
Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan (qomariyah), yang rata-rata sebelas hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadhan secara metafora (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Dari akar kata tersebut kata “Ramadhan” digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata “Ramadhan” digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah.
…Kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab berarti orang yang sakit mata mau buta, sehingga tak dapat disamakan dengan “Ramadhan”…
Namun kata “Ramadan” (tanpa huruf h) dalam bahasa Arab artinya orang yang sakit mata mau buta, sehingga tidak dapat disamakan artinya dengan “Ramadhan.”
Kecerobohan Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sangat disayangkan penulisan ejaan “Ramadhan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan kata “Ramadan”. Entah mengapa para ahli bahasa yang menyusun KBBI sangat ceroboh menuliskannya begitu. Apakah mereka tidak sengaja atau apa? KBBI tentu menjadi rujukan masyarakat Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan baik (bukan baik dulu, baru kemudian benar). Jadi para ahli bahasa yang menyusun KBBI harus hati-hati dalam menyusun kata-kata dalam kamus pedoman itu. Apalagi kata “Ramadhan” adalah salah satu kata yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Terlebih lagi, penduduk Indonesia paling besar adalah memang beragam Islam.
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya mengakomodasi kata-kata dari banyak bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Latin, Prancis, Sanskerta, Spanyol, Tionghoa, Yunani dan lain-lain. Dalam bidang agama, ratusan kata berasal dari Bahasa Arab, termasuk salah satunya kata “Ramadhan” yang sedang kita bicarakan. Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang ada hubungannya dengan bahasa negara lain, sangat dimungkinkan muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya negara itu. Tapi karena kata “Ramadhan” memang sangat berbeda artinya dengan kata “Ramadan” tentu harus tetap digunakan kata “Ramadhan”.
…Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Ramadhan” dengan “Ramadan,” karena melahirkan salah kaprah…
Jangan dibiarkan kesalahan penggunaan kata “Ramadhan” dengan “Ramadan”. Karena kita tahu sendiri dalam menggunakan bahasa di tengah masyarakat kita sering terjadi salah kaprah, artinya menggunakan bahasa pada awalnya salah dan karena yang salah dibiarkan tetap salah maka masyarakat kemudian menganggapnya itu sebagai bahasa yang umum digunakan sehingga masyarakat akhirnya tidak merasa salah kalau menggunakannya. Padahal penggunaan bahasa itu keliru. Oleh karena itu juga yang salah akan tetap salah dan janganlah dilakukan yang nantinya akan berakibat menjadi lebih fatal lagi sehingga akhirnya kekeliruan itu walaupun salah sekalipun tapi karena umum dilakukan sehingga akan menjadi kebiasaan.
*) Penulis adalah pengamat bahasa alumnus Universitas Widya Mataram Yogyakarta, kini tinggal di Jakarta dan Tegal.
Selasa, 10 Agustus 2010
Puasa is silent devotion to GOD

Alhamdulillah, sebagian besar umat Islam Indonesia akan memulai puasa hari ini. NU dan Muhammadiyah sama tahun ini.
Selama bulan puasa ini, hindari nanya tetek-bengek seperti 'boleh ga sikat gigi siang2 saat puasa dan semacamnya. lebih baik konsentrasi pada esensi puasa: yaitu menanamkan etika "mengendalikan diri", ethics of restraint. shaum artinya: self-restraint.
Selama ini, kita sering dengar himbauan untuk menghormati orang yg sedang puasa. yg tidak puasa juga perlu kita hormati. Mutual respect lah. Tidak perlu ada sweeping warung2yg buka selama bulan puasa. Tp, warung2 yg buka jg sebaiknya hormati yg puasa jg. sama2 enak kan :)
Sebetulnya, jujur aja ya: tujuan pokok bulan puasa sdh lama dilanggar. Setiap bulan puasa tiba, angka inflasi selalu naik. artinya apa ini? Kalau angka inflasi naik selama ramadan, artinya: belanja umat islam naik pd bulan itu. katanya "puasa", kog malah konsumeristik. aneh kan?
Yg "menjengkelkan": semua stasiun TV selama bulan ramadan ini membanjiri kita dg acara agama sebulan penuh. soal rating aja ini kan? :). Lihat acara2 agama di TV selama puasa, kesan saya kayak "sinetronisasi agama" saja => Dangkal dan Tumpul!!
Puasa itu mestinya ibadah individual, sifatnya vertikal dg Tuhan. Ga perlu rame2, liat aja tradisi puasa kita selama ini kayak apa :) Puasa mestinya "silent devotion to GOD", bukan "a parade of rituals". Puasa itu tindakan "sufistik", bukan "politik kesalehan".
Just a tickling question: apa gunanya puasa, tp prilaku kita di jalan raya ngga berubah, ugal2an dari dulu, ngga ada "ethics of restraint"?
Ada dua jenis puasa:
Pertama, "puasa-politik", isinya pencitraan belaka, rame2 buka puasa, makan2, tarawih, dsb. lbh banyak pamer :)
Kedua, "puasa pietistik", puasa yg cenderung diam, tak dipamer2kan, reflektif, menghayati makna etika pengendalian diri. ini lbh penting.
Dlm hadis qudsi yg terkenal: “al-shaumu li wa ana ajzi bihi”. puasa itu tertuju khusus padaKU, dan AKU lah yg akan mengganjarnya. Makna hadis qudsi yg saya kutip itu: puasa itu tindakan individual yg "sepi", bukan ritual sosial yg rame2. mestinya momen refleksi.
Sabtu, 31 Juli 2010
SHINTAL AND JONTOR: Reong Kacun Phenomenon Interview
Duo Racun! Fitri tropica kocak abis! kalah deh itu shinta and jojo... ampe ga bs berenti mencet tombol replay nih hahahayyy
Minggu, 20 Juni 2010
Deco (Magia Deco) alih profesi jd pemain film dan jd vokalis band???

Belakangan di Indonesia ngetrend dgn video "mirip artis". sebenernya sudah lama saya lihat beberapa entertainer yg mirip dgn Deco (merupakan pemain sepak bola berkebangsaan Portugal. Saat ini ia membela tim Chelsea. Sebelumnya ia memperkuat FC Barcelona)
sempat ada tanya dlm hatiku.. apakah mereka bersaudara dgn Deco, atau malah sebenernya Deco iti "nyambi" jd pemain band dan membintangi film layar lebar??
ternyata saya salah.. tp emang mereka sangat mirip sih

silahkan lihat kemiripan mereka:
Douglas Robb vocalis Hoobastank

Hoobastank merupakan grup musik asal Amerika Serikat yang beraliran rock modern yang melejit lewat lagu "The Reason" pada tahun 2004. Kata Hoobastank diambil dari kata "Hooba" dan "Slank". Kedua kata tersebut diambil dari bahasa pergaulan sewaktu masih duduk di bangku sekolah.

John Paul Cusack
adalah seorang aktor dan penulis yang berasal dari keluarga Katolik-Irlandia, Kalo sudah pernah nonton film 2012 dialah pemeran utamanya

Setelah memainkan berbagai macam peran selama beberapa tahun, Cusack mengukuhkan dirinya sebagai aktor papan atas di tahun 1997 setelah membintangi komedi hitam, Grosse Pointe Blank (di mana ia juga bertindak sebagai produser dan penulis) dan dalam film aksi Con Air. Kedua film itu mencapai sukses secara komersial. Selanjutnya ia tetap memilih peran-peran yang tidak biasa seperti dalam Being John Malkovich dan High Fidelity

Cusack pernah digosipkan dekat dengan beberapa selebriti seperti Minnie Driver, Neve Campbell, Lili Taylor, Claire Forlani, Alison Eastwood, tapi dia tetap membujang hingga saat ini. Ia adalah salah satu dari sedikit selebriti yang menutup rapat-rapat kehidupan pribadinya. Dan jarang menampakkan diri selain untuk keperluan film maupun pementasannya.
Berikut daftar nama pemain sepakbola yg juga mirip dgn celebrity entertainment
Luiz Felipe Scolari= Gene Hackman
Giovanni Trappatoni= Leslie Nielsen(film Naked Gun)
Sven Goran Eriksson= Kevin Costner
Jacques Santini= Oliver Platt/Rowan Atkinson(Mr.Bean)
Pierluigi Collina= makhluk mars(film Mars Attack) :hehe
Pavel Nedved= Patrick Swayze
Zinedine Zidane= Leonard Nimoy(Mr.Spock di fs.Startrek)
Patrick Vieira= Andre Hehanusa
Luis Figo= Robert de Niro
Thomas Helveg= Robert Redford
Fredrik Ljungberg= Mark McGrath(vokalis Sugar Ray)
Christian Vieri= Brian Austin Green(fs.Beverly Hills 90210)
Alessandro del Piero= Matthew Fox(fs.Party of Five)
Raul= Mark Feehely(vokalis Westlife)
Michael Owen= Chris O’Donnel
Oliver Kahn= Arnold Schwarzeneger
Michael Ballack= Matt Damon/Bambang Pamungkas
Christian Ziege= Parto Patrio
setuju kah kalo mereka emang mirip?
Langganan:
Entri (Atom)







